Tuesday, December 7, 2010

Perawatan Harian Popok Kain Modern: Cara Mencuci dan Tips Praktis

Oleh: Inne Utomo

Menggunakan dan merawat popok kain modern (cloth diaper, clodi) ibarat pepatah 'alah bisa karena biasa'. Awalnya ada yang merasa, "ribet, deh!". Kalau tidak mengerti betul, ada juga yang merasa, "mau praktis kok malah repot, sih? Cape, deeeh!". Meski demikian, ibu-ibu pengguna popok kain modern kini semakin banyak. Sebab, kerepotan yang terasa berat di awal, sebenarnya adalah pekerjaan harian biasa yang mudah dikerjakan. Karena belum terbiasa maka rasanya sulit sekali. Setelah terbiasa, secara otomatis Ibu atau asisten di rumah akan jauh lebih mudah mengerjakannya.

Popok kain modern ada banyak jenisnya. Antara lain fitted diaper, prefold diaper, pocket system, All in Two (AI2), All in One (AIO) dan cover system*. Tetapi pada intinya, cara perawatannya sama: tidak perlu direndam lama, dicuci dengan sedikit deterjen dan dibilas sampai hilang busanya.

Perbedaan dari macam-macam jenis tersebut diatas, biasanya mempengaruhi cepat-lambatnya waktu pengeringan.

Nah, berikut ini detail cara pencucian dengan pilihan cuci dengan tangan dan dengan mesin cuci. Umumnya, dengan cara berikut ini, popok tidak akan beraroma khas amonia setelah kering.

Happy cloth diapering!

*****

Mencuci dengan Tangan

  • Jika si kecil buang air besar, buang kotoran ke dalam kloset, siram untuk menghilangkan sisa kotoran yang menempel
  • Jika belum sempat mencuci selama 2 - 3 hari, sebelum ditaruh di ember, kucek sebentar di bawah air mengalir untuk membuang sisa ompol
  • Kumpulkan popok kotor di ember kering (dry pail)
  • Saat hendak mencuci, siapkan ember berisi air dan gunakan 1/4 takaran deterjen tanpa pemutih, pewangi dan pelembut, dan hindari deterjen dengan kandungan enzim pengangkat kotoran. Rendam sebentar, sekitar 15 - 30 menit
  • Kucek popok, tidak perlu sekuat tenaga saat mengucek dan memeras. Simpanlah energi dan tenaga dalam Ibu-ibu untuk bermain bersama si kecil saja.
  • Bilas 2 atau 3 kali sampai busa hilang. Kalau ada bau ompol membandel, bilas di bawah air mengalir.
  • Peras popok secukupnya, jemur dengan inner menghadap matahari
  • Setelah kering, lipat dan simpan di lemari pakaian si kecil.


Mencuci dengan Mesin Cuci

Sharing dari Anna:

"Untuk pencucian sehari-hari, aku menggunakan mesin cuci semi-automatic dua tabung. Cara pencucian aku biasanya seperti ini:

  • Bekas pup dikucek sampai bersih, jadikan satu dengan popok kotor lainnya
  • Bilas popok kotor bekas ompol dengan air biasa tanpa deterjen sebanyak dua kali
  • Bilas dua kali tanpa deterjen
  • Baru dicuci bersama baju Seno lainnya
  • Cuci selama enam menit dengan deterjen 1/4 takaran dari yang dianjurkan
  • Bilas 2 - 3 kali hingga busa tidak ada atau hanya sedikit
  • Keringkan dengan spin selama 2 - 3 menit

Tentunya banyaknya air, deterjen, lamanya cuci dan bilas juga disesuaikan dengan banyaknya popok kotor yah. Biasanya aku nyuci seperti ini utk 2 - 3 set popok modern. Oh ya, ada juga yang menyarankan nyuci popok modern jangan dicampur pakaian biasa, tapi aku campur untuk menghemat air, listrik, waktu dan tenaga :D

Selain itu kalo mau merendam popok di air deterjen jangan lama-lama, mungkin sekitar lima menit aja. Sebaiknya sih ikuti saran pencucian yang biasanya tertera pada label masing-masing merk popok. Ada yang mengklaim 'wash at any temperature' seperti Blueberry Minky, ada juga yang menyarankan cuci dengan air panas di suhu 40 - 60° C, ada juga yang outer-nya sama sekali tidak boleh kena air panas seperti merk Coolababy. Bila masih terdapat noda pup setelah dicuci, biarkan saja dulu, jemur di bawah terik matahari, noda akan memudar. Kalaupun masih ada biasanya akan hilang pada pencucian selanjutnya.

Oh ya, untuk mencuci dengan mesin cuci otomatis (fuzzy logic ya istilahnya?) aku belum pernah jadi belum ada pengalaman. Kalo melihat cara kerjanya kayaknya lebih boros air. Bila cucian tidak terlalu banyak menurutku sebaiknya dicuci dengan tangan".


Tentang PERENDAMAN

Tips dari Sitha Puspita:

"Bisa juga ditambahkan bubuk anti bakteri saat merendam dan/atau saat mencucinya, misalnya produk Mothercare Smart Nappy Soak atau Bambino Mio Fresh. Mungkin pakai Tea Tree oil juga bisa, silakan browsing untuk detailnya".

Tips dari Adisty Budiman:

"Fitted diaper dan reusable liner yg ada fleece-nya biasanya tetap aku rendam sih, malahan semalaman, buat ngilangin pesing dan noda. Kalo pocket diaper dan diaper cover yang PUL-laminated memang gak aku rendam karena memang demikian sesuai anjuran kebanyakan produsen clodi, karena katanya bisa merusak atau melemahkan daya waterproofing (kalo minjam istilahnya 'deteriorate')".

*****

Nah, tulisan ini adalah beberapa tips dari Ibu-ibu yang terbiasa menggunakan popok kain. Bisa dilihat, bahwa setiap Ibu punya cara sendiri, tetapi pada dasarnya tetap pada prinsip menggunakan sedikit deterjen, membilas sampai busa hilang, tidak merendam popok terlalu lama sebelum dicuci dan tidak menggunakan setrika setelah popok kering.

Silakan tentukan gaya Anda sendiri. Untuk informasi lebih lanjut atau berbagi pengalaman ber-popok kain ria, gabung di milis popok kain yaaa..

Cheers!

Inne Utomo

*Silakan baca posting tentang jenis-jenis popok kain modern.


Share/Bookmark

Wednesday, October 6, 2010

Popok Kain Lokal


Berikut ini list merk popok kain lokal Indonesia yang beredar di pasaran. Untuk review dari masing2 merk, silakan dilontarkan di milis popok kain ya... Beberapa review sudah ada di file milis, silakan bergabung di sini dan download file-nya dalam format PDF. Secara berkala, file tersebut akan diupdate sesuai review yang masuk dari member milis.

  1. Cluebebe
  2. Metal Mom
  3. Zigie Zag
  4. GG
  5. Baby Oz
  6. Enphlia
  7. Popochan
  8. Nicekids
  9. Canchut
  10. Ananndapers
  11. Iconic Kids
  12. Lusty Bunny
  13. Popok handuk Canberra
  14. Ummi
  15. Ecokiddy
  16. Baby Farros
  17. Bayibayi
  18. Pempem
  19. Ziya
  20. Babyboo


Terima kasih banyak untuk para member milis popok kain yang sudah melengkapi list di atas.

Salam popok kain!


Share/Bookmark

Thursday, August 12, 2010

Cerita Pendek Pemenang Hiburan

(No Tittle)

Oleh: Atika

Dikaruniai anak oleh Allah SWT adalah anugerah luar biasa.Ketika lahir buah cintaku dengan suami, seperti setiap orangtua kami ingin melakukan yang terbaik untuk anak-anak kami. Nah dari jaman hamil sampe melahirkan, yang getol kulakukan adalah mengumpulkan info parenting dan BELANJA. Hehe..namanya juga perempuan kan, shopping always be fun!.Apalagi sekarang ini perlengkapan bayi udah makin canggih dan lucu-lucu.Misalnya gurita yang dulu cuma bertali-tali sekarang diupgrade jadi berperekat. Bedong yang dulu berupa kain diubet-ubetkan sekarang udah diupgrade jadi bedong siap pakai. Begitupun popok...yang dulu hanya kain persegi dengan tali dikanan kiri sekarang sudah diupgrade menjadi aneka rupa popok kain modern yang disebut cloth diaper.

Waktu Altaf lahir, semua masih proses adaptasi. Ternyata habis ngeden melahirkan itu membuat tulang2 rontok. Merawat newborn yang setiap saat pipis dan eek juga menimbulkan stress tersendiri. Tapi nekat gak pakein Altaf disposable diaper dan bertahan dengan popok tali. Kenapa begitu? Karena sehabis partus normal yang notabene darah nifasnya banyaaaak, aku mengalami betul yang namanya IRITASI gara-gara pake pembalut terus menerus. Biasanya kalo menstruasi kan pake pembalut cuma semingguan. Tapi waktu nifas sampe bersih, pake pembalut sekitar 40-harian. Nahhh waktu itu yang ada dibenakku adalah...orang dewasa aja kalo iritasi bisa sakiiiit gini, bagaimana dengan bayi baru lahir? yang iritasi gara-gara disposable diapers?. Apalagi disposable diapers dicurigai mengandung zat kimia berbahaya yang bisa menimbulkan efek jangka panjang. Ngeri!.

Tapi penggunaan popok tali juga bukannya bebas masalah. Selain gampang basah kuyub dan membuat bayi rawan masuk angin, juga buat pinggang encok karena cucian segunung. Browsing punya browsing akhirnya nemu artikel-artikel tentang cloth diaper. Waktu itu masih jarang sekali ada diIndonesia. Dan pas Altaf umur 2bulanan, dapetlah cloth diaper pertamanya yaitu Happy Heinys Pocket warna Royal Blue. Inget banget waktu pertama nyuci popok ini rasanya mau nangis. Huhuhu, satu popok bayi harganya segini?!!.

Ternyata setelah dipakein..ouwh terkesan dengan performanya yang aman dan nyaman untuk Altaf. Membuatku ingin mengumpulkan lagi, lagi dan lagi. Sebagai pecandu, yang kucari bukan hanya daya serap insert yang paling yahud. Tapi juga jatuh cinta dengan cloth diaper bermotif lucu atau berbulu-bulu. Sampai merembet ngumpulin pernak-perniknya macem liners, snappi, wetbag bubuk stripping, dll. Makin hari makin mantap pakein anakku cloth diaper karena prinsip ekologis dan ekonomis. Tidak menimbun sampah, bisa dicuci ulang, yang onesize bisa dipake sampe toddler dan bisa diturunkan untuk anak berikutnya. Supaya awet tentu saja cloth diaper harus dirawat. Perawatannya mudah, perhatikan aturan pencucian dan stripping berkala. Happy cloth diapering :).


Popok Kain : Akibat “Sok”-nya Bukan Main!

Oleh: Sukma

Ya, saya akui, saya memang sok. Berawal dari rasa sok ini ternyata berujung pada suatu kesenangan yang baru. Ah, bagaimana bisa? Sebelum bilang tidak mungkin, simak dulu pengalaman saya berikut ini.

Saya mulai berbelanja di dunia maya semenjak Rara berumur 7 bulan. Sudah dapat diduga, belanjaan saya yang pertama pastilah perlengkapan bayi. Saya mengunjungi hampir semua toko bayi online yang direkomendasikan teman dan mesin pencari Google adalah salah satu situs favorit.

Saya berhasil menemukan sesuatu yang membuat saya penasaran. Saya pun kemudian menjadi salah satu “silent reader” dari sebuah forum ibu dan anak, dan keasyikan membaca salah satu topik mengenai “cloth diaper”. Apa dan bagaimana “cloth diaper”- yang kemudian saya tahu popok kain adalah terjemahan bahasa Indonesianya- terjawab dari forum ini.

Aha! Saya menemukan komunitas akibat sok tahu googling popok kain, dan mereka dengan sukarela mengulas pemakaian berbagai cloth diaper pada bayi mereka. Usut punya usut, ternyata saya sudah termasuk pengguna popok kain versi jadul. Sedari masih berstatus bayi baru lahir, Rara adalah bayi dengan popok bertali. Awalnya saya kira, popok kain itu hanyalah pospak yang bisa dicuci dan dipakai berulang-ulang. Oh..oh..tidak, ternyata popok kain modern banyak sekali jenis dan rupanya! Saya jadi jatuh cinta.

Saya langsung menyiapkan presentasi mengenai popok kain ini. Presentasinya tidak menggunakan power point, namun cukup dengan kebawelan saya saja. Suami pun ternganga karena pertanyaan 5W 1H dapat saya babat tanpa kebat-kebit.

Saya menekankan bahwa kami akan banyak memperoleh keuntungan dengan popok kain ini. Dengan sok tahu, saya paparkan penghematan yang akan terjadi. Yah, angka memang tidak pernah gagal dalam meyakinkan suami saya. Unsur ramah lingkungan juga menjadi alasan kuat. Lalu mengenai kepraktisan? Sebenarnya saya masih ragu. Namun, karena saya sok percaya diri dan bilang akan cuci sendiri tanpa minta bantuan suami, si dia pun teryakinkan dan keluarlah pernyataan : “OK, darling!”

Sejalan dengan waktu, ternyata saya makin cinta dengan popok kain. Karena saya yang sok tahu, saya bisa mendapat barang bermutu. Karena saya yang sok percaya diri, saya pun memantapkan hati untuk memakai popok kain. Saya juga senang bisa bertemu teman sesama pengguna popok kain dan asyik sekali diajak bertukar pikiran. Saya pun senang menemukan hobi baru, yaitu menulis dan sekarang membuat blog karena popok kain. Saya terinspirasi untuk menyebarluaskan popok kain dengan motto : popok kain, rasakan kegunaannya yang tidak “main-main”.

Terimakasih popok kain! Nah, percaya kan kalau rasa sok itu memungkinkan jadi sesuatu yang positif? :)


Sabar, Perjuangan Mendapatkan Popok Kain Untuk Syifa

Oleh: Nurlatifah

Sejak Syifa lahir, saya sudah menggunakan popok kain. Ya, popok kain biasa yang juga digunakan sewaktu saya bayi. Ketika usia Syifa semakin bertambah, volume pee-nya pun semakin banyak. Alhasil kalau tidak memakai diaper, pee sampai kemana-mana. Apalagi kalau Syifa lagi tidur. Selain harus mengganti celana, baju yang basah terkena pee juga harus diganti, yang paling sedih kalau sampai mengganggu tidurnya. Kasihan Syifa kalau setiap tidur harus bangun karena terganggu saat saya ganti popoknya. Tidurnya jadi tidak berkualitas. Belum lagi kalau poo, noda poo akan sampai ke perlak yang akhirnya harus dibersihkan juga. Sebelum mengenal cloth diaper, saya siasati dengan cara yang hemat alias irit. Saya selipkan kain pada celana yang Syifa pakai. Tujuannya biar kalo pee tidak sampai kemana-mana, dan kalo poo tidak tembus ke perlak. Tidak tahu, apakah Syifa nyaman dengan solusi yang saya pakai ini. Karena Syifa juga tidak rewel, biasa aja.

Ini baru permasalahan yang saya hadapi ketika pee atau poo saat Syifa tidur. Berbeda lagi kalau sedang berpergian atau saat siang hari. Saya mencoba produk disposable diaper (pospak). Tetapi, masih ada masalah lagi “ruam popok”. Seperti ibu-ibu termakan iklan di televisi, saya mencoba berbagai merk pospak. Dari yang harganya murah meriah hingga yang mahal bikin kantong kering. Saya coba merk-merk itu untuk mengetahui pospak mana yang cocok untuk Syifa. Setelah ketemu, berlangganan deh dengan produk itu. Karena harganya yang mahal, jadi boros banget. Ditambah efek samping dari segi kesehatan dan tidak ramah lingkungan, karena selalu pusing kalau mau buang sampah pospak ini. Dan tentunya perlu solusi lagi.

Tidak mau berhenti berusaha sampai disini, saya cari informasi di sana-sini, tanya teman yang sama-sama punya baby, searching di dunia maya, hingga bertemulah saya dengan blog bunda-bunda modern, yang menawarkan cloth diaper di Online shop-nya. Permasalahan tidak selesai sampai disini. Harga cloth diaper yang begitu mahal. Padahal saya tidak cukup satu biji untuk keperluan popok Syifa. Harus nabung untuk beli cloth diaper. Padahal sudah pas banget produk ini, secara bisa dipakai cuci ulang, hemat, ramah lingkungan, sehat, tanpa bahan kimia, dan tentunya bisa dipakai hingga generasi berikutnya. Dimulailah perjuangan menabung dan menahan diri untuk tidak beli baju baru dulu.

Semoga cerpen ini, bisa memberi pencerahan kepada bunda-bunda, dan tentunya kalo menang kan bisa membantu memenuhi kebutuhan cloth diaper untuk Syifa. Bismillah ya anakku, semoga kita jadi pemenangnya. Amin.


Iritasi pun hilang… Mama senang… bayiku riang

Oleh: Anindita

Ketika cuti melahirkan, sebagai Ibu yg baru memiliki anak pertama, bisa dibilang aku masih minim pengalaman untuk mengurus bayi sendiri. Saat itu, aku me’nyita’ Mama ku untuk membantu ku merawat bayi ku. Asca begitu biasa bayiku dipanggil, sejak lahir memang kulitnya sangat sensitif. Kebetulan Asca lahir dengan berat badan yang cukup gemuk. Postur badannya yg agak gemuk tersebut, tentunya memiliki lipatan-lipatan kulit yang bisa dibilang lebih banyak. Menyadari hal tersebut, aku diajarkan oleh Mamaku bahwa aku harus extra menjaga kebersihan daerah kelaminnya.

Memasuki usianya yg ke-3 bulan, aku dan suami mulai menggunakan ‘disposable diapers’untuk anak kami. Awalnya masih baik-baik saja , sampai akhirnya Asca mengalami iritasi ringan. Segera saat itu Asca kuberikan lotion anti ruam popok dan masalah iritasi itupun hilang. Memasuki bulan ke-5, mendadak Asca terkena kembali iritasi akibat pemakaian pampers. Hampir berjalan seminggu, iritasi tersebut ternyata tidak kunjung sembuh. Merahnya sampai menimbulkan luka di pantat nya. Setiap kali Asca pipis atau puppy, ia pasti menangis.

Stress!! Aku dan suamiku tidak tega melihat anak kami menangis. Perlahan aku terpaksa memberhentikan anakku menggunakan pampers. Sampai pada suatu hari aku searching di Facebook dan mendapatkan satu Baby online shop yang menjual Cloth Diapers. Aku akhirnya googling lebih lanjut untuk mengetahui apakah Cloth diapers itu. Untuk memenuhi rasa ingin tahuku, akhirnya kuputuskan untuk membeli Cloth Diapers di FB online shop tersebut. Tidak sabar rasanya ingin segera digunakan pada bayiku. Akhirnya aku mengajarkan pengasuh bayiku untuk mulai menggunakan clodi tersebut. Percobaan pun berhasil, Asca nyaman menggunakan clodi tersebut. Waaahhh, hatiku dan suami sangat lega rasanya saat itu. Anak kami iritasinya berangsur-angsur pulih dan bahkan hilang. Thanks God!!…ternyata aku tahu jawaban dari iritasi tersebut. Sampai sekarang, anakku tidak pernah mengalami iritasi lagi.

Saya sangat puas dengan menggunakan cloth diapers, cara perawatannya mudah, tidak boros karena bisa cuci dan dipakai lagi, ramah lingkungan, dan yang terpenting menjauhkan anak dari ruam popok. Special thanks juga untuk online shop di FB (Mba Anti) yg pertama kali melayani saya untuk membeli clodi dengan sangat sabar. Sekarang saya punya stok hampir 10 clodi, budget yang dulu digunakan untuk beli pampers sekarang malah dipakai buat modal karena aku sekarang malah jadi reseller cloth diapers. Selain menyalurkan hobi berjualan, ternyata ada kesenangan dan kepuasan tersendiri ketika bisa berbagi dan menginformasikan kepada teman-teman Ibu lain yang belum mengenal cloth diapers dan akhirnya sekarang ikut beralih dari pampers dengan menggunakan cloth diapers.

Iritasi hilang, mama senang …bayi pun riang!!


Cloth Diaper = Berhemat dan Sehat!

Oleh: Luluch

Sebelum Westpa lahir, sebenarnya aku sudah tahu mengenai clodi alias cloth diaper dari temenku. Tapi saat itu, ketika mencari info tentang clodi via Google, wowww... terperangah oleh harganya. Masak popok kain seharga 250 ribu??? Mahal benerrr... Langsung mundur deh...

Jadi saat awal-awal usia Westpa, aku memakaikan pospak – 24 jam. Hal ini berlangsung sampai umur Westpa 3 bulan. Tiap ke supermarket selalu berlama-lama di bagian pospak, mencari tahu mana yang sedang prmo, dan membanding-bandingkan harga :D

Yang memicu peralihan ke clodi saat itu ialah saat Westpa pup di sore hari dan harus ganti pospak 1 jam sebelum jam mandinya. Rasanya seperti membuang uang ke tempat sampah. Dan aku pun mulai berhitung, Westpa memakai pospak P ukuran M dengan harga diskon @ Rp. 1.750,-, bila sehari membutuhkan 4-5 pospak, berarti dalam sebulan aku mengeluarkan uang minimal Rp. 210.000,-. Kalau dihitung sampai 2 tahun, total sekitar 5 jutaan. Padahal semakin besar ukurannya kan semakin mahal harga pospak. Oh no!

Mulai deh cari-cari info lagi tentang clodi di Indonesia. Saat itu ketemu dengan clodi lokal model pull up yang harganya lumayan murah. Coba-coba beli 2 pcs dulu... Hmmm.. performa sing kurang memuaskan yaaahhh. Tapi ternyata tetap bisa mengurangi kebutuhan pospak Westpa sehari-hari lhoo... Asyik!!

Akhirnya mencoba membeli 2 merk lokal baru saat itu, GG dan Cluebebe. Diujicobakan ke baby Westpa dan berlangsung sukses! Dan mulailah sesi CuRingKai – cuci kering pakai karena mamanya sedang senang-senangnya memakaikan clodi hahaha.

Semenjak itu pula, dari yang awalnya merasa sayang mengeluarkan uang untuk membeli clodi impor, akhirnya tergoda untuk mengoleksi clodi lokal – impor (tanpa sepengetahuan papanya hihihi). MamaWestpa jadi keranjingan ma clodi! Setiap hari mantengin toko online cloth diaper yang memberi harga murah atau sedang promo hehehe. Dan baby Westpa pun menjadi obyek percobaan performa berbagai macam cloth diaper.

Kini koleksi clodi Westpa sudah mencapai 14 biji, dari berbagai macam merk lokal maupun impor. Total pengeluaran untuk membeli clodi-clodi tersebut sekitar 1,5 juta (yang 2 dapat gratis hehehe :D ). Setara dengan pengeluaran pospak 7 bulan, tapi bisa dipakai sampai Westpa umur 2 tahun, dan bisa dipakai adiknya juga nanti. Woowww... hitung-hitung-hitung, hemat bangettt jatuhnya...

Ketika papanya tahu kalau harga clodi impor mencapai 250 ribu/pcs, beliau kaget dan ngomel-ngomel. Setelah kujelasin kalau clodi lebih hemat dan sehat, akhirnya beliau malah ikutan mendukung. Sekarang tiap kali melewati bagian pospak di supermarket, tinggal lenggang kangkung saja :) I love cloth diapers!!



Share/Bookmark

Monday, August 2, 2010

Cerita Pendek Para Pemenang Utama


Pemenang 1 - Mira

POPOK KAIN UNTUK ALAMKU

Saat orang mulai ramai mendengungkan slogan Go Green! dan bicara tentang pemanasan global, saya hanyalah orang yang terbawa tren tanpa benar-benar memaknainya. Saya bicara tentang bumi yang memanas, tapi saya masih boros menggunakan air, belum bisa lepas dari AC, menggunakan sekian banyak kertas untuk keperluan tugas kuliah tanpa terpikir untuk men-daur-ulangnya, dan berbagai perilaku yang berlawanan lainnya.

Semua berubah ketika saya dipertemukan oleh teman-teman dari LSM lingkungan saat bertugas di Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat. Mereka, serta masyarakat dan alam Papua, menyadarkan saya betapa perilaku manusia berpengaruh besar terhadap dunia. Kesan terdalam adalah saat saya berada di tengah laut dan merasakan ombak yang begitu dahsyat (hingga ketinggian sekitar 1,7 meter) akibat angin barat yang datang lebih cepat dari biasanya. Ombak yang berbahaya ini menjadi alasan pembatasan aktivitas di laut saat musim angin barat tiba. Pemanasan global ‘mengacaukan’ ritme musim angin ini sehingga datang lebih awal.

Hikmahnya, saya pun berusaha memperbaiki perilaku saya terhadap lingkungan. Termasuk memilih popok kain untuk buah hati saya. Gembiranya saat mengetahui begitu banyak pilihan popok kain dewasa ini. Ditambah lagi ada milis popok kain, tempat berkumpulnya para orang tua yang punya banyak pengetahuan dan mau berbagi tentang berbagai informasi mengenai popok kain ini.

Semakin banyak tau tentang popok kain, saya semakin cinta. Semakin senang karena dapat berkontribusi mengurangi sampah dunia. Senang juga karena penghematan yang ditimbulkan tentunya--dan untuk yang satu ini, suami juga ikut senang. Senang yang lain adalah karena ternyata popok kain lebih sehat dibanding popok sekali pakai. Satu hal yang tidak bisa saya pungkiri, yang paling membuat senang adalah: bisa mengajak orang lain memperoleh manfaat popok kain sambil mendapat penghasilan :)

Saya (dan terutama anak saya) mungkin belum bisa sepenuhnya lepas dari AC. Kami juga masih banyak menggunakan plastik pembungkus karena alasan tertentu. Kadang lebih suka menggunakan tisu ketimbang lap kain. Mungkin juga masih boros menggunakan air untuk membilas popok kain. Namun satu hal yang saya yakini, menggunakan popok kain adalah sebuah langkah besar bagi penyelamatan alam.

******************************************************************************

Pemenang 2 - Mecca

DEMI BUMI YANG LEBIH BERSAHABAT

“ Tidak tega melihat sampah menumpuk!”. Itulah alasan utama saya memutuskan memakaikan popok kain kepada Aruni. Memang ada alasan lainnya, tetapi tidak sekuat alasan yang satu itu.

Sebelum Aruni lahir, belum banyak gambaran di benak saya tentang berbagai macam bentuk popok kain. Yang tergambar hanyalah popok kain sistem tali dengan bahan satu lapis kain atau kaos, dan model popok seperti itu sama sekali tidak membuat saya tertarik untuk membelinya.

Untungnya, kakak ipar yang sudah lebih dulu melahirkan putri kembarnya, mengenalkan saya dengan popok kain tradisional yang sedikit ’lebih aman’ dibanding dengan popok kain tali tadi. Nah, model flat diaper yang dilipat origami ditambah dengan diaper cover inilah yang kemudian saya pakaikan kepada putri saya. Saat itu alasan saya sederhana, agar pengeluaran rumah tangga lebih hemat, alasan umum sejuta ibu......

Tetapi perjalanan untuk benar-benar menggunakan popok kain sehari-hari tidak semudah itu, di awal kelahiran tidak ada yang asisten yang membantu, sedang saya baru belajar mengurus bayi dan berusaha memberikan ASI eksklusif dengan perjuangan. Pada akhirnya, popok sekali pakailah (pospak) yang menjadi pilihan. Apalagi bayi saya jarang mengalami ruam popok dengan memakai pospak, semakin nyamanlah hidup ini dengan pospak.

Namun ternyata, gunungan sampah pospak ini tak pelak mengganggu pikiran saya. Saya yang sudah sejak lama mulai ikut berusaha mengurangi sampah ibukota dengan memisahkan sampah organik dan non organik serta sampah daur ulang –dan saya yang juga menjadi pembenci orang-orang yang kerap seenaknya membuang sampah di sembarang tempat- terus dihantui dengan tumpukan sampah pospak yang saya tahu tidak akan terurai hingga ratusan tahun kemudian, di masa anak cucu saya akan hidup. Mau jadi apa dunia ini? Saat inipun keadaannya sudah amburadul, banjir dimana-mana, hingga longsor sampah sering terjadi.

Alhamdulillah, inovasi popok kain terus berkembang, dan popok dengan sistem pocket diaper dengan mudah didapatkan dengan harga yang terjangkau. Memang perlu investasi lebih di awal, yang kadang membuat alasan agar pengeluaran lebih hemat hanya tinggal alasan kalau kita tidak pandai menahan diri melihat popok-popok lucu ini J. Tapi alasan untuk kebaikan bumi yang kita pijak tidak kalah penting dari semua itu. Saya akui, belum 100% saya lepas dari pospak, tetapi saya merasa lebih lega dengan kontribusi saya terhadap kebaikan lingkungan hidup, meskipun kontribusi ini nilainya hanya seujung kuku. Sekarang, tidak ada alasan lagi untuk menumpuk sampah pospak!

******************************************************************************

Pemenang 3 - Intan

(Tanpa Judul)

Waktu itu, sekitar 1 tahun yang lalu, anakku yang ke 2, Azzam, sedang sakit diare. Kami pergi ke dokter. Di sana saya dengar ada ibu-ibu yang sedang asyik ngobrol, mereka membicarakan tentang bahaya pampers. Saya kaget juga, belum pernah saya dengar informasi itu. Maklum, kami hidup di sebuah kota kecil MOJOKERTO, dimana informasi berjalan begitu lambat. Sampai di rumah saya memikirkan obrolan ibu – ibu muda itu. Selain itu kondisi azzam pantatnya makin memerah selama diare. Makin parah karena disposable yang ia gunakan. Tetapi jika menggunakan popok kain tradisional, merahnya tidak terlalu meradang. Berawal dari itu saya giat untuk mencari informasi perihal popok kain yang dapat menahan bocor. Berbagai langkah saya lakukan termasuk konsultasi dengan berbagai orang melalui internet. Berbagai artikel perihal popok kain saya baca. Dari kegunaan, bahan, akibat buruk karena disposable, dampak lingkungan. Banyak yang saya peroleh dari penggalian ilmu itu. Istilah cloth diaper yang bagi saya masih sangat asing , masih susah saya mengerti jika tidak melihat sendiri bahannya. Saya putuskan untuk membeli beberapa merk secara online.


Pertama mencoba salah satu popok local yang ada plastiknya ke anak saya , tidak berhasil. Pipisnya meluber kemana mana karena penyerap pipisnya tidak bisa menampung pipis anakku. Protes datang dari ibuku dan suami (yang ikut menjaga anakku). “Kok bocor, balik lagi aja ke disposable”. Saya ganti dengan clodi local lain , tapi masih belum menggunakan PUL. “Wah kok masih mudah tembus”. Berburu lagi clodi lain yang ada PULnya.

Berhasil dan beberapa orang di rumah heran juga, kok ada barang dari kain bisa gak tembus untuk beberapa saat. Respon yang positif walau masih terlihat sedikit merupakan prestasi yang bagus untukku. Beberapa artikel yang telah saya baca saya berikan ke suami untuk dipahami, ternyata pandangan suami mulai berubah, ia mulai menyukai benda ini juga, Pandangan orang serumah juga mulai berubah setelah sedikit demi sedikit saya jelaskan bagaimana keuntungan menggunakan cloth diaper. Pengeluaran untuk disposable diaper Rp. 400.000 per bulan bisa saya hilangkan. Cara perawatan cloth diaper pun tidak susah, malah saya tidak perlu membebani si mbak dengan setrikaan yang menggunung. Senangnya, suami ikutan senang karena lebih hemat. Dan ia juga telah yakin kalau cloth diaper yang sekarang ini bukan kembali ke jaman dulu kala, ia tetap tidak basah jika menggendong anak kami , tetap hemat karena pengeluaran hanya besar di awal pembelian.

Semoga misi untuk terus menyebarkan betapa pentingnya berpindah dari disposable diaper ke cloth diaper modern terus berlanjut.


******************************************************************************

Pemenang 4 - Nies Mouna

PERKENALANKU DENGANNYA...

Setelah mengetahui bahwa saya hamil,mulailah saya menyibukkan diri mencari tahu berbagai perlengkapan bayi, salah satunya adalah popok. Saya ingat waktu adik yang bungsu lahir, saat itu mama menyiapkan popok kain berbentuk persegi yang dipakaikan dengan cara dilipat-lipat dan disatukan dengan peniti. Jadi, saya terpikir untuk menggunakan cara yang sama untuk jabang bayi kelak, karena saya pribadi kurang begitu setuju dengan pemakaian popok sekali pakai (pospak) untuk penggunaan sehari-hari bayi. Saya mengandaikan diri sendiri ketika mengalami haid harus menggunakan pembalut, rasanya kurang nyaman dan bebas. Menurut saya demikian pula yang dirasakan oleh bayi jika harus setiap hari menggunakan pospak. Belum lagi beberapa masalah kesehatan yang timbul sebagai efek samping penggunaan pospak. Rasanya tidak tega membayangkan kelak bayi saya yang harus menanggung kerugian dari pemakaian pospak berlebihan hanya karena bundanya malas untuk mengelap ompol.

Saya pun terdampar di sebuah toko online yang menjual clodi (cloth diaper). Deskripsi tentang clodi amat menarik karena menawarkan metode yang hampir sama dengan popok kain tradisional sebagaimana yang digunakan mama dahulu, namun telah dimodifikasi sehingga memenuhi kebutuhan ibu-ibu masa kini yang menginginkan kepraktisan. Saat itu yang populer adalah pocket diaper, yang terdiri dari cover dengan outer penahan air dan inner yang memberikan efek kering layaknya pospak, serta insert yang mampu menampung banyak cairan layaknya popok tradisional. Sayapun mulai tertarik dengan clodi, sehingga mulailah pencarian informasi difokuskan pada clodi. Ternyata clodi baru mulai menjamur di Indonesia, penjualnyapun baru seputaran toko-toko online saja sehingga saya masih meraba-raba bentuk clodi yang sebenarnya. Berbagai toko online saya kunjungi dan kirimi email berisi pertanyaan seputar clodi, namun akhirnya saya urung membeli karena harga yang relatif mahal dan metode pencuciannya yang membuat saya mengernyitkan dahi. Clodi harus dicuci tanpa pelembut, pewangi, pemutih, menggunakan sedikit deterjen dan tanpa disetrika.

Hingga ketika usia kehamilan yang ke delapan bulan ada sebuah fair untuk ibu dan bayi. Disana ada dua stand yang menawarkan clodi, dan saat itulah saya baru melihat dan merasakan produknya langsung. Waktu itu saya cukup terkesima akan lucunya bentuk clodi yang sebenarnya dan halusnya inner cover clodi. Akhirnya saya membulatkan tekad kembali untuk memakaikan clodi kepada bayi saya kelak. InsyaAllah..masalah pencucian dan perawatan bisa diatasi, dan masalah harga??? Alhamdulillah ternyata ada rezekinya.

Saat ini, bayi saya telah berusia enam bulan, semua clodinya masih berfungsi baik. Saya tidak lagi khawatir mengenai pencucian dan perawatan clodi, karena ternyata sangatlah mudah. Sayapun menjadi lebih tenang karena yakin kulit bayi lebih aman.

******************************************************************************

Pemenang 5 - Novi

ALASANKU MEMILIH CLOTH DIAPERS

Masih jelas tergambar waktu pertama kali mengenal cloth diapers, popok kain modern yang bisa dicuci ulang dan sama fungsinya seperti pospak (popok sekali pakai), dari seorang kawan. Bukan rasa tertarik yang ada, justru sebaliknya, pikiran negatif yang muncul, “Cloth diapers hanya menambah cucian.” Tapi di balik itu tak bisa dipungkiri, perkenalan pertama membawa rasa penasaran. Sebelumnya aku pernah menggunakan popok kain saat anakku masih berumur hitungan bulan, tapi popok kain tersebut sangat berbeda dengan popok kain modern yang baru aku kenal ini.

Untuk menjawab rasa penasaran, aku mulai mencari-cari informasi tentang clothdiapers di internet. Dan lambat laun pikiranku mulai terbuka, penggunaan clothdiapers membawa banyak manfaat; hemat di “kantong”, sehat di kulit bayi dan ramah di lingkungan.

Dari salah satu situs yang aku baca, menggunakan cloth diapers berarti mengurangi jumlah sampah. Dan dari situs lain aku temukan fakta lebih dari 20,000,000,000 pospak dibuang setiap tahun di USA dan Canada. Jika aku simulasikan, bentangan sampah pospak tersebut bisa menutupi dua kali lipat luas kota Jakarta. Bagaimana dengan sampah pospak seluruh bayi di dunia? “Hmmm.., mungkin bisa menutupi luas Kepulauan Indonesia,” dalam hati. Fakta lain, sampah pospak juga mengandung unsur plastik yang akan terurai sempurna oleh tanah 500 tahun kemudian. Mengerikan, membayangkan sampahnya yang banyak dan sulit terurai. Ternyata pilihanku selama ini menggunakan pospak membuat bumi semakin berat menanggung beban.

Manfaat lain yang aku baca, menggunakan clothdiapers berarti menghemat uang belanja. Simulasi anggaran membuktikan penggunaan clothdiapers akan menghemat pengeluaran bulanan untuk pembelian pospak selama kurun waktu 2 tahun. Memang terbayang pembelian clothdiapers di awal akan terasa berat karena harus memiliki setidaknya beberapa buah clothdiapers. Tapi ini bukan masalah besar, “Toh pengeluaran di awal digunakan untuk investasi 2 tahun berikutnya,” pikirku. Bahkan, jika perawatannya benar, bisa diwariskan ke anak berikutnya. “Betapa hemat”, ucapku.

Semenjak itu, aku mulai membeli produk cloth diapers. Pertama mencoba masih banyak kendala. Tapi pantang untuk mundur. Ditambah lagi aku mulai bergabung dengan salah satu mail list yang membahas seluk beluk clothdiapers, membuat aku semakin banyak tahu tentang clothdiapers. Dan akhirnya, tidak ada lagi pikiran negatif tentang cucian yang menumpuk karena manfaat yang aku dapat jauh lebih besar.

Sekarang, saat si kecil sudah lepas dari cloth diapers, aku berpikir satu hal, “Ternyata benar, menggunakan clothdiapers adalah pengalaman menyenangkan yang membawa banyak manfaat.” Bukan tidak mungkin pengalaman ini aku sebarkan ke ibu-ibu muda lainnya, sehingga semakin banyak ibu yang sadar akan manfaat cloth diapers. Semoga...


******************************************************************************

Sekali lagi, selamat kepada para pemenang! Semoga semakin memicu diri sendiri dan juga moms - dads yang lain untuk tetap semangat berpopok kain ria.

Terima kasih para sponsor! Tanpa Anda semua, lomba ini tidak akan meriah. Thank's, Moms!
Salam,

Sitha



Share/Bookmark